NEWS UPDATE :  

Berita

CERITA PENDEK KARYA DEVILIA ARDRAILSA

WUJUD PENDIDIKAN INDONESIA
Oleh Devilia Ardrailsa Tandi

(Pemenang Lomba Artikel/Cerpen competition)

 

      Tasya adalah seorang gadis SMP yang sekarang berada dikelas delapan. Keseharian Tasya sebagai pelajar SMP membuat ia menyadari bahwa dimasa pandemi seperti saat ini ia harus tetap belajar meski merasakan sekolah dari rumah. Tak dapat dipungkiri hal itu kadang membuat Tasya pusing sendiri memikirkan tugas-tugasnya, ya walaupun pemikiran Tasya sediikit ringan saat mengetahui bahwa UN (Ujian Nasional) di tahun 2020 dan seterusnya telah di hapus dan sebagai gantinya Tasya dan teman kelasnya harus mengikuti AKM (Assesmen Kompetensi Minimun). Mungkin ini adalah satu langkah yang maju bagi pelajar seluruh Indonesia, termasuk sekolahnya. Tasya terkejut saat tahu bahwa AKM diadakan di kelas menengah SMP. Yang Tasya pikirkan AKM sama seperti UN yang bisa membuat isi kepalanya penuh, ternyata AKM lebih memihak kepada siswa.

“Syukurlah kalau begitu aku tak perlu lagi pusing memikirkan soal-soal yang membuat kepala ku pecah” cerca Tasya sambil mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk.

“Tasya! Sini nak bantuin mama bentar” panggil Ratna, mama Tasya.

“Sebentar ma, Tasya masih ngerjain tugas Tasya.”

“Kamu dari kemarin ngerjain tugas mulu gak selesai-selesai. Kamu alasan ya?”

“Alasan bagaimana lagi ma, tugas Tasya banyak, sabar bentar ma” jawab Tasya yang berusaha menyelesaikan tugasnya dengan cepat.

Ratna yang curiga dan merasa selalu dibohongi anaknya dengan alasan mengerjakan tugas, segera menghapiri kamar Tasya dengan langkah cepat dengan raut wajah marah.

“Kamu itu alasan tugas terus, emang apasih yang kamu kerjakan? “ sambil melihat tugas dimeja.

“Ini bukannya tugas yang minggu lalu? Kenapa baru dikerjain sekarang? Lalu kamu ngapain aja selama seminggu kemaren Tasya?” tanya Ratna seperti seorang dektektif yang sedang mengintrogasi seseorang.

“Huhu. Mamah cantik kalo marah cepet tua loh” goda tasya.

“KAMU YAAAAAA!” Sambil menjerit kencang

“Mamaaaaa, suara mama kayak terompet loh! Iya ma maaf, minggu lalu Tasya males ma ngerjain tugas yang banyak dan ga habis-habis ini ma” seraya sambil memeluk mamanya.

“Tasya sayang, dengerin mama ya. Kamu harus tetap semangat nak, walaupun hanya daring. Kamu harus tetap optimis, inget aja cita cita Tasya dan jadikan itu sebagai acuan semangat belajar Tasya” Ratna memahami kondisi anaknya yang frustasi dengan tugas-tugasnya ditambah lagi harus sekolah secara online.

“Hehe siap mama” sambil hormat kepada mamanya.

“Yasudah sekarang kamu lanjutin lagi ya, maafin mama udah ganggu kamu” ucap Ratna dengan nada yang rendah.

Sebenarnya Tasya sudah lelah dengan terus belajar secara online, tapi Tasya berpikir dan mencari cara untuk  membuatnya kembali semangat belajar.  Belajar secara online itu juga membuat Tasya tidak mengerti materi apa yang disampaikan oleh gurunya.

Saat Tasya sedang asik berada didalam kamar tiba-tiba ponsel Tasya berdering.

Tuing tuing tuing tuing

“Halo assalamualaikum Tasya” salam seseorang dari seberang telepon.

“Waalaikumusalam. Hallo Putri, ada apa?”

“Jadi gini Sya, barusan bu Lita telfon dan memberi tahu bahwa ada seleksi untuk mengikuti seleksi AKM dan kamu tau Syaaaa, kita terpilih untuk ikut simulasi itu bareng sama 4 anak yang lain”.

“Eh tapi Put, kok aku kepilih ya?” sambil tertawa kencang.

“Hmm, kesambet kali Bu Lita saat pilih kamu Sya”

“Jadi kapan simulasi ini dilaksanakan?” tanya Tasya

“Kalau kata Bu Lita, simulasinya habis ujian akhir semester dan itupun masih nunggu info lebih lanjutnya. Untuk lebih jelasnya kamu tanya ke Bu Lita langsung aja.”

“Yasudah ya Tas.”

“Iya Put, makasih ya infonya.”

“Oke Tasya,” ucap Putri di akhir panggilannya.

Saat Tasya ingin memberi tahu info tersebut pada Mamanya, ternyata Ratna sudah memanggilnya terlebih dahulu.

“Tasya, sini nak” panggil Ratna dari lantai bawah

“Iya kanjeng mama, Tasya turun.

Dengan segera Tasya turun dan menghampiri mamanya.

“Ada apa kanjeng mama?”

“Panggil orang tua yang bener Tasya!” Sambil memukul bantal sofa.

“Ini mama habis lihat berita di koran kompas kalau ada kebijakan merdeka belajar untuk para siswa salah satunya ya penghapusan UN” jelas Ratna

Setelah mamanya berbicara panjang lebar Tasya memberi tahu mamanya tentang apa yang disampaikan oleh Putri. Dan respon Ratna cukup membuat Tasya senang. Tasya menjadi salah satu peserta AKM yang dipilih oleh sekolah.  Setelah obrolan di ruang bawah selesai, Tasya sedang berpindah didalam kamarnya dan berkutat dengan laptopnya

Hari telah berlalu. Dan saat ini tidak ada kegiatan yang bisa Tasya lakukan kecuali sekolah secara daring dan membantu mamanya. Namun, pada malam yang terang dengan diterangi rembulan di atas langit yang pekat Tasya memutuskan untuk menghubungi salah satu teman di sekolahnya.

“Hil Hil, hallooooo. Kamu di dalam hutan ya kok sinyal semacam zombie gini” ejek Tasya.

“Wah bener-bener kamu Sya. Ada apa nih tumbenan malam-malam telepon?”

“Kan sekarang UN sudah dihapus, terus menurut kamu gimana?”

“Ya tapi masih ada ujian sekolah Sya!”

“Hehe, santai dong pak! Kan ujian itu mengetes kelayakkan kita dan melihat sampai mana perkembangan proses belajar kita. Lalu apakah kita sudah dikatakan sudah merdeka dalam belajar yak?”

Iya juga sih, aku seneng malah kalau UN dihapus dan diganti AKM yang menurutku lebih enak. Ya meski hanya lihat di berita sih hehe.”

“Iya sama aku juga setuju kalau UN dihapus tapi ada sebagian yang gak setuju, gak Tau alasannya apa.”

“Tapi masih banyak yang setuju kalau UN dihapus karena ada yang anggap kalau UN itu terlalu memberatkan siswa.”

“Kan pendapat orang beda-beda.”

“Entah ya Sya, bagiku UN itu hanya mengedepankan nilai akademis dan ya pada ujungnya kita dituntut untuk mendapatkan nilai bagus dengan banyak kecurangan.”

“Hehehe bener sih Hil, aku ya merasa seperti itu. Pak Nadim mencetus merdeka belajar juga sepertinya sangat tepat ya. Tapi sayang, pandemi membuat kita bosen dengan sistim daring.”

“Lalu apakah itu merdeka belajar sya? Tanya Hilmas sambil tertawa kencang.”

“Ya bisa jadi Hil. Belajar merdeka atau merdeka belajar ya Hil? Wahaha”

“Ya intinya merdeka belajar adalah kebahagiaan yang harus dirasakan oleh kita semua Sya. Termasuk guru kita di sekolah.”

Tak lama obrolan pun berakhir. Tut..tut...tut...

Pada akhirnya semua kembali dengan berjuag dan doa, jika hanya mengandalkan rasa malas bagaimana kita bisa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Selalu ada proses dan setiap proses itu memberikan kita pelajaran yang berguna di masa mendatang. Jangan hanya karena tak berada disekolah membuat kita jadi malas untuk belajar. Kalo kata bapak Nelson Mandela “pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, kamu dapat mengubah dunia”. Tetap semangat dan jadikan cita- cita mu sebagai acuan semangat belajarmu. Merdeka belajar adalah perjuangan menjadi lebih merdeka lagi dalam belajar.